Setiap manusia memiliki masa-masa dalam kehidupannya, mulai dari bayi, batita, balita, kanak-kanak, remaja,dewasa, hingga tua. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, mereka ingin anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dari orangtuanya.
Apapun mereka lakukan sekuat tenaga, tetapi tidak ada
daya yang cukup untuk memenuhi hasrat tersebut. Kemiskinan menjadi penghalang
bagi merek untuk mewujudkan mimpi kepada anak-anaknya.
Masa
kanak-kanak semestinya dilalui dengan bermain dengan teman-teman Sekolah,
tetapi tidak dengan anak penggendong cobek batu yang hampir setiap hari harus
berjualan cobek batu keliling dengan pikulan berat di bahunya. Masa bermain
Bersama dengan teman-teman terpaksa harus dilewati demi memberikan
kehidupan yang sedikit lebih layak kepada keluarganya.
Melihat anak-anak seumurannya yang lain bermain, rasa iri seringkali muncul di benak Jajang seorang anak laki-laki berusia 10 tahun asal Padalarang, Jawa Barat. Di usianya yang masing belia, ia memilih untuk membantu perekonomian keluarganya dengan berjualan cobek keliling, dibanding bermain dengan teman-teman sepantarannya.
Tidak lagi memiliki seorang Ibu dan hanya memiliki ayah sebagai penjual cobek membuat Jajang memanfaatkan waktu sehabis sekolah dan liburnya untuk berjualan cobek keliling.
Pendidikan Nomor 1
Jajang memiliki cita-cita sebagai pemain sepak bola, karena baginya, cita-cita itu sudah tertanam sejak ia kecil. Namun sautnya, hal tersebut hanya mimpi saja karena saat ini ia masih kecil dan masih harus bersekolah.
Meskipun hampir setiap hari Jajang harus membantu ayahnya dengan berjualan cobek, tetapi menurut ayah Jajang, sekolah merupakan yang terutama, karena dengan demikianlah Jajang mampu mengubah nasibnya di masa depan.
"kata bapak, sekolah mah tetap lanjut, biar nanti bisa kerja, dan nanti jualannya habis sekolah"
Comments
Post a Comment